Sangat beruntung bagi Marwan bisa sampai menyelesaikan pendidikan di bangku SMA. Tapi lepas dari SMA kebingungan menyertainya, karena tidak tahu harus bagaimana lagi setelah menyelesaikan pendidikan SMA. Keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi tetap besar. Namun semua itu tentunya sangat berhubungan dengan biaya. Apalagi kalau kuliahnya harus pulang pergi, tentunya biaya akan lebih tinggi dibandingkan dengan biaya kuliahnya. Dengan segala kegelisahan yang ada, akhirnya semuanya diceritakan di hadapan kedua orang tuanya. Mereka dengan penuh bijaksana menerangkan semua kemungkinan yang akan terjadi dari kemungkinan kekurangan uang dengan akan menjual sepetak sawah. Sampai dengan alternatif untuk tinggal di rumah kakak ibunya.
Mendengar antusiasnya kedua orang tuanya, membuat semangat Marwan bertambah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Memang keluarganya bisa dikatakan mapan untuk ukuran orang-orang yang ada di kampung itu. Kedua orang tuanya memiliki beberapa petak sawah dan menjadi salah satu tokoh di kampung itu.
“Marwan..” sapa ibunya ketika Marwan sedang merapikan beberapa pakaian untuk dibawa ke kota. Ini ada surat dari ayahmu untuk Oom di kota nanti. Sebuah surat yang mungkin penegasan dari ayah Marwan untuk menyakinkan bahwa anaknya akan tinggal untuk sementara waktu di rumah Oomnya. Sebetulnya orang tua Marwan sudah menelepon Tuan Budiman tetapi karena Tuan Budiman dan Marwan sangat jarang sekali bertemu maka orang tua Marwan memberikan surat penegasan bahwa anaknya akan tinggal di Bandung, di rumah Oomnya untuk sementara waktu.
Oomnya yang bernama Budiman memang paling kaya dari keluarga ibunya yang terdiri dari empat keluarga. Oomnya yang tinggal di Bandung dan mempunyai beberapa usaha dibidang jasa, percetakan sampai dengan sebuah surat kabar mingguan dan juga bisnis lainnya yang sangat berhasil.
Hubungan antara Oomnya yang bernama Budiman dan kedua orang tua Marwan sebetulnya tidak ada masalah, hanya karena kedua orang tua Marwan yang sering memberikan nasehat karena kelakuan Oomnya yang sering berganti-ganti istri dan akibat dari berganti-ganti istri itu sehingga anak-anaknya tercecer di mana-mana. Menurut ibu Marwan, Oomnya telah berganti istri sampai dengan empat kali dan sekarang ia sedang menduda. Dari keempat istri tersebut Budiman dianugerahi empat anak, dua dari istri yang pertama dan duanya lagi dari istri-istri yang kedua dan ketiga sedang dari istri yang keempat Om Budiman tidak mempunyai anak.
Anak Om Budiman yang paling bungsu di bawah Marwan dua tahun dan ia masih SMA di Bandung. Jadi usia Om Budiman kira-kira sekarang berada diatas limapuluh tahun.
Sesampainya di kota Bandung yang begitu banyak aktivitas manusia, Marwan langsung masuk ke sebuah kantor yang bertingkat tiga. Kedatangannya ke kantor itu disambut oleh kedua satpam yang menyambutnya dengan ramah. Belakangan diketahui namannya Asep dari papan nama yang dikenakan di bajunya.
“Selamat siang Pak,” Tegur Marwan kepada salah satu satpam yang ada dua orang.
“Selamat siang Dik, ada yang bisa dibantu,” jawab satpam yang bernama Asep.
“Anu Pak, apa Bapak Budiman ada?”
“Bapak Budiman yang mana Dik,” tegas satpam Asep, karena melihat suatu keraguan bahwa tidak mungkin bosnya ada bisnis dengan anak kecil yang baru berumur dua puluh tahunan.
“Anu Pak, apa ini PT. Rido,” tanya Marwan menyusul keraguan satpam. Karena sebetulnya Marwan juga belum pernah tahu di mana kantor-kantor Oomnya itu, apalagi bisnis yang digelutinya.
“Iya.. Benar Dik, dan Bapak Budiman itu adalah pemilik perusahaan ini,” tegas satpam Asep menjelaskan tentang keberadaan PT.Rido dan siapa pemiliknya.
“Adik ini siapa,” tanya satpam kepada Marwan, sambil mempersilakan duduk di meja lobby bawah.
“Saya Marwan Pak, keponakan dari Bapak Budiman dari desa Gunung Heulang.”
“Keponakan,” tegas satpam, sambil terus mengangkat telepon menghubungi Pak Dadi kepercayaan Tuan Budiman.
Selang beberapa menit kemudian Pak Dadi datang menghampiri Marwan sambil memberikan selamat datang di kota Bandung. “Marwan.. Apa masih ingat sama Bapak,” kata Pak Dadi sambil duduk seperti teman lama yang baru ketemu.
Mimik Marwan jadi bingung karena orang yang datang ini ternyata sudah mengenalnya.
“Maaf Pak, Marwan Sudah lupa dengan Bapak,” kata Marwan sambil terus mengigat-ingat.
Pak Dadi terus menerangkan dirinya, “Saya yang dulu sering mancing bersama Tuan Budiman ketika Marwan berumur kurang lebih lima tahun.”
Marwan jadi bingung, “Wah, Bapak bisa saja.. mana saya ingat Pak, itu kan sudah bertahun-tahun.”
Selanjutnya obrolan dengan Pak Dadi yang belakangan ini diketahui selain kepercayaan di kantor, ia juga sebagai tangan kanan Tuan Budiman. Bapak Dadi mengetahui apa pun tentang Tuan Budiman. Kadangkala anak Om Budiman sering minta uang pada Pak Dadi bila ternyata Om Budiman sedang keluar kota. Malah belakangan ini Om Budiman membeli sebuah rumah dan di belakangnya dibuat lagi rumah yang tidak kalah besarnya untuk Pak Dadi dan istrinya sedangkan yang depan dipakai oleh istri mudanya yang kurang lebih baru berumur 35 tahun.
“Aduh Dik Marwan, Bapak tadi dapat perintah dari Tuan Budiman bahwa ia tidak dapat menemani Dik Marwan karena harus pergi ke Semarang untuk urusan bisnis. Dan saya diperintahkan untuk mencukupi keperluan Dik Marwan. Nah, sekarang kamu mau langsung pulang atau kita jalan-jalan dulu,” sambung Pak Dadi melihat ekpresi Marwan yang sedikit kecewa karena ketakutan akan tempat tinggal. Melihat gelagat itu Pak Dadi langsung berkomentar, “Jangan takut Dik Marwan pokoknya kamu tidak akan ada masalah,” tegur Pak Dadi sambil menegaskan akan tidur dimana dan akan kuliah dimana, itu semunya telah diaturnya karena mempunyai uang dan uang sangat berkuasa dibidang apapun.
Mendengar itu Marwan menjadi tersenyum, sambil melihat-lihat orang yang berlalu lalang di depanya. Kebetulan pada saat itu jam masuk karyawan sudah dimulai. Begitu banyak karyawati yang cantik-cantik ditambah lagi dengan penampilannya yang mengunakan rok mini. Keberadaan Marwan sebagai keponakan dari pemilik perusahan itu sudah tersebar dengan cepatnya. Ditambah lagi dengan postur badan Marwan yang atletis dan wajah yang gagah membuat para karyawati semakin banyak yang tersenyum bila melewati Marwan dan Pak Dadi yang sedang asyik ngobrol.
Mereka tersenyum ketika bertatap wajah dengan Marwan dan ia segaja duduk di lobby depan, meskipun tawaran untuk pindah ke lobby tengah terus dilontarkan oleh Pak Dadi karena takut dimarahi oleh Tuan Budiman. Memang tempat lobby itu banyak orang lalu lalang keluar masuk perusahaan, dan semua itu membuat Marwan menjadi betah sampai-sampai lupa waktu karena keasyikan cuci mata.
Keasyikan cuci mata terhenti ketika Pak Dadi mengajaknya pulang dengan mengendarai sebuah mobil sedan dengan merek Merci terbaru, melaju ke sebuah kawasan villa yang terletak di pinggiran kota Bandung. Sebuah pemukiman elit yang terletak di pinggiran Kota Bandung yang berjarak kurang lebih 17 Km dari pusat kota. Sebuah kompleks yang sangat megah dan dijaga oleh satpam.
Laju mobil terhenti di depan rumah biru yang berlantai dua dengan halaman yang luas dan di belakangnya terdapat satu rumah yang sama megahnya, kolam renang yang cantik menghiasi rumah itu dan sebagai pembatas antara rumah yang sering didiami Om Budiman dan rumah yang didiami Pak Dadi dan Istrinya. Sedangkan pos satpam dan rumah kecil ada di samping pintu masuk yang diisi oleh Mang Ade penjaga rumah dan istrinya Bi Enung yang selalu menyiapkan makanan untuk Nyonya Budiman. Ketika mobil telah berhenti, dengan sigap Mang Ade membawa semua barang-barang yang ada di bagasi mobil. Satu tas penuh dibawa oleh Mang Ade dan itulah barang-barang yang dibawa Marwan. Bi Enung membawa ke ruang tamu sambil menyuruhnya duduk untuk bertemu dengan majikannya.
Pak Dadi yang sejak tadi menemaninya, langsung pergi ke rumahnya yang ada di belakang rumah Om Budiman tetapi masih satu pagar dengan rumah Om Budiman. Pak Dadi meninggalkan Marwan, sedangkan Marwan ditemani oleh Bi Enung menuju ruang tengah. Setelah Tante Angel datang sambil tersenyum menyapa Marwan, Bi Enung pun meninggalkan Marwan sambil terlebih dahulu menyuruh menyiapkan air minum untuk Marwan.
“Tante sudah menunggu dari tadi Marwan,” bisiknya sambil menggenggam tangan Marwan tanda mengucapkan selamat datang.
“Sampai-sampai Tante ketiduran di sofa”, lanjut Tante Angel yang pada waktu itu menggunakan rok mini warna Merah. Wajah Tante Angel yang cantik dengan uraian rambut sebahu menampakkan sifatnya yang ramah dan penuh perhatian.
“Tante sudah tahu bahwa Marwan akan datang sekarang dan Tante juga tahu bahwa Om Budiman tidak dapat menemanimu karena dia sedang sibuk.”
Obrolan pun mengalir dengan penuh kekeluargaan, seolah-olah mereka telah lama saling mengenal. Tante Angel dengan penuh antusias menjawab segala pertanyaan Marwan. Gerakan-gerakan tubuh Tante Angel yang pada saat itu memakai rok mini dan duduk berhadapan dengan Marwan membuat Marwan salah tingkah karena celana dalam yang berwarna biru terlihat dengan jelas dan gumpalan-gumpalan bulu hitam terlihat indah dan menantang dari balik CD-nya. Paha yang putih dan pinggulnya yang besar membuat kepala Marwan pusing tujuh keliling. Meskipun Tante Angel telah yang berumur Kira-kira 35 tahun tapi kelihatan masih seperti gadis remaja.
“Nah, itu Yunda,” kata Tante Angel sambil membawa Marwan ke ruang tengah. Terlihat gadis dengan seragam sekolah SMP. Memang ruangan tengah rumah itu dekat dengan garasi mobil yang jumlah mobilnya ada empat buah. Sambil tersenyum, Tante Angel memperkenalkan Marwan kepada Yunda. Mendapat teman baru dalam rumah itu Yunda langsung bergembira karena nantinya ada teman untuk ngobrol atau untuk mengerjakan PR-nya bila tidak dapat dikerjakan sendiri. “Nanti Kak Marwan tidurnya sama Yunda ya Kak.” Mendapat pertanyaan itu Marwan dibuatnya kaget juga karena yang memberikan penawaran tidur itu gadis yang tingginya hampir sama dengan Marwan. Adik kakak yang sama-sama mempunyai badan sangat bangus dan paras yang sangat cantik. Lalu Tante Angel menerangkan kelakuan Yunda yang meskipun sudah besar karena badannya yang bongsor padahal baru kelas dua SMP. Mendengar keterangan itu, Marwan hanya tersenyum dan sedikit heran dengan postur badannya padahal dalam pikiran Marwan, ia sudah menaruh hati pada Yunda yang mempunyai wajah yang cantik dam putih bersih itu.
Setelah selesai berkeliling di rumah Om Budiman dengan ditemani oleh Tante Angel, Marwan masuk ke kamarnya yang berdekatan dengan kamar Yunda. Memang di lantai dua itu ada empat kamar dan tiap kamar terdapat kamar mandi. Tante Angel menempati kamar yang paling depan sedangkan Marwan memilih kamar yang paling belakang, sedangkan kamar Yunda berhadapan dengan kamar Marwan.
Setelah membuka baju yang penuh keringat, Marwan melihat-lihat pemandangan belakang rumah. Tanpa sengaja terlihat dengan jelas Pak Dadi sedang memeluk istrinya sambil nonton TV. Tangan kanannya memeluk istrinya yang bermana Astri. Sedangkan tangan kirinya menempel sebatang rokok. Keluarga Pak Dadi dari dulu memang sangat rukun tetapi sampai sekarang belum dikeruniai anak dan menurut salah satu dokter pribadi Om Budiman, Pak Dadi divonis tidak akan mempunyai anak karena di dalam spermanya tidak terdapat bibit yang mampu membuahinya.
Hari-hari selanjutnya Marwan semakin kerasan tinggal di rumah Om Budiman karena selain Tante Angel Yang ramah dan seksi, juga kelakuaan Yunda yang menggemaskan dan kadang-kadang membuat batang kemaluan Marwan berdiri. Marwan semakin tahu tentang keadaan Tante Angel yang sebetulnya sangat kesepian. Kenyataan itu ia ketahui ketika ia dan tantenya berbelanja di suatu toko di pusat kota Bandung yang bernama BIP. Tante Angel dengan mesranya menggandeng Marwan, tapi Marwan tidak risih karena kebiasaan itu sudah dianggap hal wajar apalagi di depan banyak orang. Tapi yang membuat kaget Marwan ketika di dalam mobil, Tante Angel mengatakan bahwa ia sebetulnya tidak bahagia secara batin. Mendengar itu Marwan kaget setengah mati karena tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tante Angel menceritakan bahwa Om Budiman sekarang itu sudah loyo saat bercinta dengannya.
Marwan tambah bingung dengan apa yang harus ia lontarkan karena ia tidak mungkin memberikan kebutuhan itu meskipun selama ini ia sering menghanyalkan bila ia mampu memasukkan burungnya yang besar ke dalam kemaluan Tante Angel. Ketika mobil berhenti di lampu merah, Tante Angel dengan beranitiduran di atas paha Marwan sambil terus bercerita tentang kegundahan hatinya selama ini dan dia pun bercerita bahwa cerita ini baru Marwan yang mengetahuinya.
Sambil bercerita, lipatan paha Tante Angel yang telentang di atas jok mobil agak terbuka sehingga rok mininya melorot ke bawah. Marwan dengan jelas dapat melihat gundukan hitam yang tumbuh di sekitar kemaluan Tante Angel yang terbungkus CD nilon yang sangat transparan itu. Marwan menelah ludah sambil terus berusaha menenangkan tantenya yang birahinya mulai tinggi. Ketika Marwan akan memindahkan gigi perseneling, secara tidak segaja dia memegang buah dada tantenya yang telah mengeras dan saat itu pula bibir tantenya yang merekah meminta Marwan untuk terus merabanya.
Marwan menghentikan mobilnya di pinggir jalan menuju rumahnya sambil berkata, “Aku tidak mungkin bisa melakukan itu Tante,” Tante Angel hanya berkata, “Marwan, Tolong dong.. Tante sudah tidak kuat lagi ingin gituan, masa Marwan tidak kasihan sama Tante.” Tangan Tante Angel dengan berani membuka baju bagian atas dan memperlihatkan buah dadanya yang besar. Terlihat buah dada yang besar yang masih ditutupi oleh BH warna ungu menantang untuk disantap. Melihat Marwan yang tidak ada perlawanan, akhirnya Tante Angel memakai kembali bajunya dan duduk seperti semula sambil diam seperti patung sampai tiba di rumah. Perjalanan itu membuat Marwan jadi salah tingkah dengan kelakuan tantenya itu.
Kedekatan Marwan dengan Yunda semakin menjadi karena bila ada PR yang sulit Yunda selalu meminta bantuan Marwan. Pada saat itu Yunda mendapatkan kesulitan PR matematika. Dengan sekonyong-konyong masuk ke kamar Marwan. Pada saat itu Marwan baru keluar dari kamar mandi sambil merenungkan tentang kelakuannya tadi siang dengan Tante Angel yang menolak melakukan itu. Marwan keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benang pun yang menutupinya. Dengan jelas Yunda melihat batang kemaluan Marwan yang mengerut kedinginan. Sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, Yunda membalikkan badannya. Marwan hanya tersenyum sambil berkata, “Mangkanya, kalau masuk kamar ketok pintu dulu,” goda Marwan sambil menggunakan celana pendek tanpa celana dalam. Kebiasaan itu dilakukan agar batang kemaluannya dapat bergerak dengan nyaman dan bebas.
Marwan bergerak mendekati Yunda dan mencium pundaknya yang sangat putih dan berbulu-bulu kecil. “Ahh, geli Kak Marwan.. Kak Marwan sudah pake celana yah,” tanya Yunda.
“Belum,” jawab Marwan menggoda Yunda.
“Ahh, cepet dong pake celananya. Yunda mau minta tolong Kak Marwan mengerjakan PR,” rengek Yunda sambil tangan kirinya meraba belakang Marwan.
Melihat rabaan itu, Marwan segaja memberikan batang kemaluannya untuk diraba. Yunda hanya meraba-raba sambil berkata, “Ini apa Kak, kok kenyal.” Mendapat rabaan itu batang kemaluan Marwan semakin menengang dan dalam pikirannya kalau dengan Yunda aku mau tapi kalau dengan kakakmu meskipun sama-sama cantiknya tapi aku juga masih punya pikiran yang betul, masa tenteku digarap olehku.
Rabaan Yunda berhenti ketika batang kemaluan Marwan sudah menegang setengahnya dan ia melepaskan rabaannya dan langsung membalikkan badannya. Marwan kaget dan hampir saja tali kolornya yang terbuat dari karet, menjepit batang kemaluannya yang sudah menegang.
Tangan yang tadi digunakan meraba batang kemaluan Marwan kembali digunakan menutup wajahnya dan perlahan Yunda membuka tangannya yang menutupi wajahnya dan terlihat Marwan sudah memakai celana pendek. “Nah, gitu dong pake celana,” kata Yunda sambil mencubit dada Marwan yang menempel di susu kecil Yunda. “Udah dong meluknya,” rintih Yunda sambil memberikan buku Matematikanya.
Saling memeluk antara Marwan dan Yunda sudah merupakan hal yang biasa tetapi ketika Marwan merasakan kenikmatan dalam memeluk Yunda, Yunda tidak merasakan apa-apa mungkin karena Yunda masih anak ingusan yang badannya saja yang bongsor. Marwan langsung naik ke atas ranjang besarnya dan bersandar di bantal pojok ruangan kamar itu. Meskipun ada meja belajar tapi Marwan segaja memilih itu karena Yunda sering menindihnya dengan pantatnya sehingga batang kemaluan Marwan terasa hangat dibuatnya. Dan memang seperti dugaan Marwan, Yunda tiduran di dada Marwan. Pada saat itu Yunda menggunakan daster yang sangat tipis dan di atas paha sehingga celana dalam berwarna putih dan BH juga yang warna putih terlihat dengan jelas. Yunda tidak merasa risih dengan kedaan itu karena memang sudah seperti itu hari-hari yang dilakukan bersama Marwan.
Sambil mengerjakan PR, pikiran Marwan melayang-layang bagaimana caranya agar ia dapat mengatakan kepada Yunda bahwa dirinya sekarang berubah hati menjadi cinta pada Yunda. Tapi apakah dia sudah mengenal cinta soalnya bila orang sudah mengenal cinta biasanya syahwatnya juga pasti bergejolak bila diperlakukan seperti yang sering dilakukan oleh Marwan dan Yunda.
PR pertama telah diselesaikan dengan cepat, Yunda terseyum gembira. Terlihat dengan jelas payudara Yunda yang kecil. Pikiran Marwan meliuk-liuk membayangkan seandainya ia mampu meraba susu itu tentunya sangat nikmat dan sangat hangat. Ketegangan Marwan semakin menjadi ketika batang kemaluannya yang tanpa celana dalam itu tersentuh oleh pinggul Yunda yang berteriak karena masih ada PR-nya yang belum terisi. Memang posisi Marwan menerangkan tersebut ada di bawah Yunda dan pinggul Yunda sering bergerak-gerak karena sifatnya yang agresif.
Gerakan badan Yunda yang agresif itu membuat paha putihnya terlihat dengan jelas dan kadangkala gumpalan kemaluannya terlihat dengan jelas hanya terhalang oleh CD yang berwarna putih. Hal itu membuat nafas Marwan naik turun. Yunda tidak peduli dengan apa yang terjadi pada batang kemaluan Marwan, malah Yunda semakin terus bermanja-manja dengan Marwan yang terlihat bermalas-malasan dalam mengerjakan PR-nya itu. Pikiran Marwan semakin kalang kabut ketika Yunda mengerak-gerakkan badan ke belakang yang membuat batang kemaluannya semakin berdiri menegang. Dengan pura-pura tidak sadar Marwan meraba gundukan kemaluan Yunda yang terbungkus oleh CD putih. Bukit kemaluan Yunda yang hangat membuat Marwan semakin bernafsu dan membuat nafasnya semakin terengah-engah.
“Kak cepat dong kerjakan PR yang satunya lagi. Yang ini, yang nomor sepuluh susah.”
Marwan membalikkan badannya sehingga bukit kemaluan Yunda tepat menempel di batang kemaluan Marwan. Dalam keadaan itu Yunda hanya mendekap Marwan sambil terus berkata, “Tolong ya Kak, nomor sepuluhnya.”
“Boleh, tapi ada syaratnya,” kata Marwan sambil terus merapatkan batang kemaluannya ke bukit kemaluan Yunda yang masih terbungkus CD warna Putih. Pantat Yunda terlihat dengan jelas dan mulai merekah membentuk sebuah badan seorang gadis yang sempurna, pinggul yang putih membuat Marwan semakin panas dingin dibuatnya. Yunda hanya bertanya apa syaratnya kata Yunda sambil mengangkat wajahnya ke hadapanya Marwan. Dalam posisi seperti itu batang kemaluan Marwan yang sudah menegang seakan digencet oleh bukit kemaluan Yunda yang terasa hangat. Marwan tidak kuat lagi dengan semua itu, ia langsung mencium mulut Yunda. Yunda hanya diam dan terus menghidar ciuman itu. “Kaak… apa dong syaratnya”, kata Yunda manja agresif menggerak-gerakkan badannya sehingga bukit kemaluannya terus menyentuh-nyentuh batang kemaluan Marwan. Gila anak ini belum tahu apa- apa tentang masalah seks. Memang Yunda tidak merasakan apa-apa dan ia seakan-akan bermain dengan teman wanitanya tidak ada rasa apa pun. “Syaratnya kamu nanti akan kakak peluk sepuasnya.”
Mendengar itu Yunda hanya tertawa, suatu syarat yang mudah, dikirain harus pus-up 1000 kali. Konsenterasi Marwan dibagi dua yang satu terus mendekatkan batang kemaluannya agar tetap berada di bawah bukit kemaluan Yunda yang sering terlepas karena Yunda yang banyak bergerak dan satunya lagi berusaha menyelesaikan PR-matematikanya. Yunda terus mendekap badan Marwan sambil kadang-kadang menggerakkan lipatan pahanya yang menyetuh paha Marwan.
Setelah selesai mengerjakan PR-nya, Marwan menggerak-gerakkan pantatnya sehingga berada tepat di atas bukit kemaluan Yunda. Marwan semakin tidak tahan dengan kedaaan itu dan langsung meraba-raba pantat Yunda. Ketika Marwan akan meraba payudara Yunda. Yunda bangkit dan terus melihat ke wajah Marwan, sambil berkata, “PR-nya sudah Kaak.. Marwan,” sambil Menguap.
Melihat PR-nya yang sudah dikerjakan Marwan, Yunda langsung memeluk Marwan erat-erat seperti memeluk bantal guling karena syaratnya itu. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Marwan begitu saja, Marwan langsung memeluk Yunda berguling-guling sehingga Yunda sekarang berada di bawah Marwan. Mendapat perlakuan yang kasar dalam memeluk itu Yunda berkata, “Masa Kakak meluk Yunda nggak bosan-bosan.” Berbagai alasan Marwan lontarkan agar Yunda tetap mau di peluk dan akhirnya akibat gesekan-gesekan batang kemaluan Marwan bergerak-gerak seperti akan ada yang keluar, dan pada saat itu Yunda berhasil lepas dari pelukan Marwan sambil pergi dan tidak lupa melenggokkan pantatnnya yang besar sambil mencibirkan mulutnya.
“Aduh, Gila si Yunda masih tidak merasakan apa-apa dengan apa yang barusan saya lakukan,” guman Marwan dalam hati sambil terus memengang batang kemaluannya. Marwan berusaha menetralisir batang kemaluannya agar tidak terlalu tegang. “Tenang ya jago, nanti kamu juga akan menikmati kepunyaan Yunda cuma tinggal waktu saja. Nanti saya akan pura-pura memberikan pelajaran Biologi tentang anatomi badan dan di sanalah akan saya suruh buka baju. Masa kalau sudah dibuka baju masih belum terangsang.”
Marwan memang punya prinsip kalau dalam berhubungan badan ia tidak mau enak sediri tapi harus enak kedua-duanya. Itulah pola pikir Marwan yang terus ia pertahankan. Seandainya ia mau tentunya dengan gampang ia memperkosa Yunda.
Ketegangan batang kemaluan Marwan terus bertambah besar tidak mau mengecil meskipun sudah diguyur oleh air. Untuk menghilangkan kepenatan Marwan keluar kamar sambil membakar sebatang rokok. Ternyata Tante Angel masih ada di ruang tengah sambil melihat TV dan meminum susu yang dibuatnya sendiri. Tante Angel yang menggunakan daster warna biru dengan rambut yang dibiarkan terurai tampak sangat cantik malam itu. Lekukan tubuhnya terlihat dengan jelas dan kedua payuadaranya pun terlihat dengan jelas tanpa BH, juga pahanya yang putih dan mulus terpampang indah di hadapannya. Keadaan itu terlihat karena Tante Angel duduk di sofa yang panjang dengan kaki yang putih menjulur ke depan.
Ketegangan Marwan semakin memuncak melihat keidahan tubuh Tante Angel yang sangat seksi dan mulus itu.
“Kamu kenapa belum tidur Wan,” kata Tante Angel sambil menuangkan segelas air susu untuk Marwan.
“Anu Tante, tidak bisa tidur,” balas Marwan dengan gugup.
Memang Tante Angel yang cantik itu tidak merasa canggung dengan keberadaan Marwan, ia tidak peduli dengan keberadan Marwan malah ia segaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di hadapan Marwan yang sudah sangat terangsang.
“Maaf ya, Tante tadi siang telah berlaku kurang sopan terhadap Marwan.”
“Tidak apa-apa Tante, Marwan mengerti tentang hal itu,” jawab Marwan sambil terus menahan gejolak nafsunya yang sudah diluar batas normal ditambah lagi dengan perlakuan Yunda yang membuat batang kemaluannya semakin menegang tidak tentu arah.
“Oom ke mana Tante, kok tidak kelihatan,” tanya Marwan mengisi perbincangan.
“Kamu tidak tahu, Oom kan sedang ke Bali mengurus proyek yang baru,” jawab Tante Angel.
Memang Om Budiman sangat jarang sekali ada di rumah dan itu membuat Marwan semakin tahu akan kebutuhan batin Tante Angel, tapi itu tidak mungkin dilakukannya dengan tantenya.
Marwan dan Tante Angel duduk di sofa yang besar sambil sesekali tubuhnya digerak-gerakkan seperti cacing kepanasan. Tak diduga sebelumnya oleh Marwan, Tante Angel membuka dasternya yang menutupi paha putihnya yang putih bersih sambil menggaruk-garukkan tangannya di seputar gundukan kemaluannya. Mata Marwan melongo tidak percaya. Dua kali dalam satu hari ia melihat paha Tante Angel, tapi yang ini lebih parah dari yang tadi siang di dalam mobil, sekarang Tante Angel tidak menggunakan celana dalam. Kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang hitam tersingkap dengan jelas dan tangan Tante Angel terus menggaruk-garuk di seputar kemaluannya itu karena merasa ada yang gatal.
Melihat itu Marwan semakin gelisah dan tidak enak badan ditambah lagi dengan ketegangan di batang kemaluannya yang semakin menegang.
“Kamu kenapa Marwan,” tanya Tante Angel yang melihat wajah Marwan keluar keringat dingin.
“Nggak Tante, Marwan cuma mungkin capek,” balas Marwan sambil terus sekali-kali melihat ke pangkal paha putih milik Tante Angel.
Setelah merasa agak baikan di sekitar kemaluannya, Tante Angel sengaja tidak menutup pahanya, malah ia duduk bersilang sehingga terlihat dengan jelas pangkal pahanya dan kemaluannya yang merekah. Melihat Marwan semakin menegang, Tante Angel tersenyum dan mempersilakan Marwan untuk meminum susu yang dituangkan di dalam gelas itu.
Ketegangan Marwan semakin memuncak dan Marwan tidak berani kurang ajar pada tantenya meskipun tahu bahwa tantenya segaja memperlihatkan kemulusan pahanya itu. “Tante, saya mau ke paviliun belakang untuk mencari udara segar.” Melihat Marwan yang sangat tegang itu Tante Angel hanya tersenyum, dalam pikirannya sebentar lagi kamu akan tunduk padaku dan akan meminta untuk tidur denganku.
Sebelum sampai ke paviliun belakang Marwan jalan-jalan dulu di pinggiran kolam lalu ia duduk sambil melihat kolam di depannya. Sambil terus berusaha menahan gejolaknya antara menyetubuhi tantenya atau tidak. Sambil terus berpikir tentang kejadian itu. Tidak segaja ia mendegar rintihan dari belakang yang kebetulan kamar Pak Dadi. Marwan terus mendekati kamar Pak Dadi yang kebetulan dekat dengan Paviliun. Marwan mengendus-endus mendekati jendela dan ternyata jendelanya tidak dikunci dan dengan mudah Marwan dapat melihat adegan suami istri yang sedang bermesraan.
Di dalam kamar yang berukuran cukup besar itu, Marwan melihatnya leluasa karena hanya terhalang oleh tumpukan pakaian yang digantung dekat jendela itu. Di dalamnya ternyata Pak Dadi dengan istrinya sedang bermesraan. Istri Pak Dadi yang bernama Astri sedang asyik mengulum batang kejantanan Pak Dadi dengan lahapnya. Dengan penuh birahi Astri terus melahap dan mengulum batang kemaluan Pak Dadi yang ukurannya lebih kecil dari ukuran yang dimiliki Marwan. Astri terus mengulum batang kemaluan Pak Dadi. Posisi Pak Dadi yang masih menggunakan pakaian dan celananya yang telah melorot ada di lantai dengan posisi duduk terus mengerang-erang kenikmatan yang tiada bandingnya sedangkan Astri jongkok di lantai. Terlihat Astri menggunakan CD warna hitam dan BH warna hitam. Erangan-erangan Pak Dadi membuat batang kemaluan Pak Dadi semakin mesra di kulum oleh Astri.
Dengan satu gerakan Astri membuka daster yang dipakainya karena melihat suaminya sudah kewalahan dengan kulumannya. Terlihat dengan jelas buah dada yang besar masih ditutupi BH hitamnya. Pak Dadi membantu membuka BH-nya dan dilanjutkan dengan membuka CD hitam Astri. Astri yang masih melekat di badan Pak Dadi meminta Pak Dadi supaya duduk di samping ranjang. Lalu Pak Dadi menyuruh Astri telentang di atas ranjang dan pantatnya diganjal oleh bantal sehingga dengan jelas terlihat bibir kemaluan Astri yang merah merekah menantang kejantanan Pak Dadi.
Sebelum memasukkan batang kemaluannya, Pak Dadi mengoleskan air ludahnya di permukaan bukit kemaluan Astri. Dengan kaki yang ada di pinggul Pak Dadi, Astri tersenyum melihat hasil karyanya yaitu batang kemaluan suaminya tercinta telah mampu bangkit dan siap bertempur. Dengan perlahan batang kemaluan Pak Dadi dimasukkan ke dalam liang kemaluan Astri, terlihat Astri merintih saat merasakan kenikmatan yang tiada tara, kepala Astri dibolak-balikkan tanpa arah dan tangannya terus meraba-raba dada Pak Dadi dan sekali-kali meraba buah dadanya. Memang beradunya batang kemaluan Pak Dadi dengan liang senggama Astri terasa cukup lancar karena ukurannya sudah pas dan kegiatan itu sering dilakukannya. Erangan-erangan Astri dan Pak Dadi membuat tubuh Marwan semakin Panas dingin, entah sudah berapa menit lamanya Tante Angel memainkan kemaluan Marwan yang sudah menegang, ia tersenyum ketika tahu bahwa di belakangnya ada orang yang sedang memegang kemaluannya.
“Tante, kapan Tante datang”, suara Marwan perlahan karena takut ketahuan oleh Pak Dadi sambil berusaha menjauh dari tempat tidur Pak Dadi. Tangan Tante Angel terus menggandeng Marwan menuju ruang tengah sambil tangannya menyusup pada kemaluan Marwan yang sudah menegang sejak tadi. Sesampainya di ruang tengah, Marwan duduk di tempat yang tadi diduduki Tante Angel, sementara Tante Angel tiduran telentang sambil kepalanya ada seputar pangkal paha Marwan dengan posisi pipi kanannya menyentuh batang kemaluan Marwan yang sudah menegang.
“Kamu kok orang yang sedang begituan kamu intip, nanti kamu jadi panas dingin dan kalau sudah panas dingin susah untuk mengobatinya. Untung saja kamu tadi tidak ketahuan oleh Pak Dadi kalau kamu ketahuan kamu kan jadi malu. Apalagi kalau ketahuan sama Oommu bisa-bisa Tante ini, juga kena marah.” Tante Angel memberikan nasehat-nasehat yang bijak sambil kepalanya yang ada diantara kedua selangkangan Marwan terus digesek-gesek ke batang kemaluan Marwan. “Tante tahu kamu sekarang sudah besar dan kamu juga tahu tentang kehidupan seks. Tapi kamu pura-pura tidak mau,” goda Tante Angel, “Dan kamu sudah tahu keinginan Tantemu ini, kamu malah mengintip kemesraan Pak Dadi,” nasehat-nasehat itu terus terlontar dari bibir yang merah merekah, dilain pihak pipi kirinya digesek-gesekkan pada batang kemaluan Marwan.
Marwan semakin tidak dapat lagi menahan gejolak yang sangat tinggi dengan tekanan voltage yang berada diluar batas kemanusiaan. “Tante jangan gitu dong, nanti saya jadi malu sama Tante apalagi nanti kalau oom sampai tahu.” Mendengar elakan Marwan, Tante Angel malah tersenyum, “Dari mana Oommu tahu kalau kamu tidak memberitahunya.”
Gila, dalam pikiraanku mana mungkin aku memberitahu Oomku. Gerakan kepala Tante Angel semakin menjadi ditambah lagi kaki kirinya diangkat sehingga daster yang menutupi kakinya tersingkap dan gundukan hitam yang terawat dengan bersih terlihat merekah. Bukit kemaluan Tante Angel terlihat dengan jelas dengan ditumbuhi bulu-bulu yang sudah dicukur rapi sehingga terlihat seperti kemaluan gadis seumur Yunda.
Marwan sebetulnya sudah tahu akan keinginan Tante Angel. Tapi batinnya mengatakan bahwa dia tidak berhak untuk melakukannya dengan tantenya yang selama ini baik dan selalu memberikan kebutuhan hidupnya. Tanpa disadari tantenya sudah menaikkan celana pendeknya yang longgar sehingga kepala batang kemaluan Marwan terangkat dengan bebas dan menyentuh pipi kirinya yang lebut dan putih itu. Melihat Keberhasilanya itu Tante Angel membalikkan badan dan sekarang Tante Angel telungkup di atas sofa dengan kemaluannya yang merekah segaja diganjal oleh bantal sofa.
Tangan Tante Angel terus memainkan batang kemaluan Marwan dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. “Aduh punya kamu ternyata besar juga,” bisik Tante Angel mesra sambil terus memainkan batang kejantanan Marwan dengan kedua tangannya. “Masa kamu tega sama Tante dengan tidak memberikan reaksi apa pun Wan,” bisik Tante Angel dengan nafas yang berat. Mendengar ejekan itu hati Marwan semakin berontak dan rasanya ingin menelan tubuh molek di depannya bulat-bulat dan membuktikan pada tantenya itu bahwa saya sebetulnya bisa lebih mampu dari Pak Dadi.
Mulut Tante Angel yang merekah telah mengulum batang kemaluan Marwan dengan liarnya dan terlihat badan Tante Angel seperti orang yang tersengat setrum ribuan volt. “Ayoo doong Wan, masa kamu akan menyiksa Tante dengan begini… ayo dong gerakin tanganmu.” Kata-kata itu terlontar sebanyak tiga kali. Sehingga tangan Marwan semakin berani menyentuh pantatnya yang terbuka. Dengan sedikit malu-malu tapi ingin karena sudah sejak tadi batang kemaluan Ari menegang. Marwan mulai meraba-saba pantatnya dengan penuh kasih sayang.
Mendapakan perlakuan seperti itu, Tante Angel terus semakin menggila dan terus mengulum kepuyaan Marwan dengan penuh nafsu yang sudah lama dipendam. Sedotan bibir Tante Angel yang merekah itu seperti mencari sesuatu di dalam batang kemaluan Marwan. Mendapat serangan yang sangat berapi-api itu akhirnya Marwan memutar kaki kirinya ke atas sehingga posisi Marwan dan tantenya seperti huruf T.
Tangan Marwan semakin berani mengusap-usap pinggul tantenya yang tersingkap dengan jelas. Daster tantenya yang sudah berada di atas pinggulnya dan kemaluan tantenya dengan lincah menjepit bantal kecil sofa itu. “Ahkkk, nikmat..” Tantenya mengerang sambil terus merapatkan bibir kemaluannya ke bantal kecil itu sambil menghentikan sementara waktu kulumannya. Ketika ia merasakan akan orgasme. “Marwan… Tante sudah tidak tahan lagi nih..” diiringi dengan sedotan yang dilakukan oleh tantenya itu karena tantenya ternyata sangat mahir dalam mengulum batang kemaluannya sementara tangannya dengan aktif mempermainkan sisi-sisi batang kemaluan Marwan sehingga Marwan dibuatnya tidak berdaya.
“Aduh . aduh.. Tante nikmat sekalii…” erang tantenya semakin menjadi-jadi. Hampir tiga kali Tante Angel merintih sambil mengerang. “Aduuh Wan.. terus tekan-tekan pantat Tante..” desah Tante Angel sambil terus menggesek-gesekkan bibir kemaluannya ke bantal kecil itu. Marwan meraba kemaluan tantenya, ternyata kemaluan Tante Angel sudah basah oleh cairan-cairan yang keluar dari liang kewanitaannya. “Marwan… nah itu terus Wan.. terus..” erang Tante Angel sambil tidak henti-hentinya mengulum batang kemaluan Marwan.
“Kamu kok kuat sekali Marwan,” bisik tante Angel dengan nafas yang terengah-engah sambil terus mengulum batang kemaluan Marwan. Tante Angel setengah tidak percaya dengan kuluman yang dilakukannya karena belum mampu membuat Marwan keluar sperma. Marwan berguman, “Belum tahu dia, ini belum seberapa. Tante pasti sudah keluar lebih dari empat kali terbukti dengan bantal yang digunakan untuk mengganjal liang kewanitaannya basah dengan cairan yang keluar seperti air hujan yang sangat deras.”
Melihat batang kemaluan Marwan yang masih tegak Tante Angel semakin bernafsu, ia langsung bangkit dari posisi telungkup dengan berdiri sambil berusaha membuka baju Marwan yang masih melekat di badannya. “Buka yaa Sayang bajunya,” pinta Tante Angel sambil membuka baju Marwan perlahan namun pasti. Setelah baju Marwan terbuka, Tante Angel membuka juga celana pendek Marwan agar posisinya tidak terganggu.
Lalu Tante Angel membuka dasternya dengan kedua tangannya, ia sengaja memperlihatkan keindahan tubuhnya di depan Marwan. Melihat dua gunung yang telah merekah oleh gesekan sofa dan liang kewanitaan tantenya yang merah ranum akibat gesekan bantal sofa, Marwan menelan ludah. Ia tidak membayangkan ternyata tantenya mempunyai tubuh yang indah. Ditambah lagi ia sangat terampil dalam memainkan batang kemaluan laki-laki.
Masih dengan posisi duduk, tantenya sekarang ada di atas permadani dan ia langsung menghisap kembali batang kemaluan Marwan sambil tangannya bergantian meraba-raba sisi batang kemaluan Marwan dan terus mengulumnya seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen dengan penuh gairah. Dengan bantuan payudaranya yang besar, Tante Angel menggesek-gesek payudaranya di belahan batang kemaluan Marwan. Dengan keadaan itu Marwan mengerang kuat sambil berkata, “Aduh Tante.. terus Tante..” Mendengar erangan Marwan, Tante Angel tersenyum dan langsung mempercepat gesekannya. Melihat Marwan yang akan keluar, Tante Angel dengan cepat merubah posisi semula dengan mengulum batang kemaluan dengan sangat liar. Sehingga warna batang kemaluan Marwan menjadi kemerah-merahan dan di dalam batang kemaluannya ada denyutan-denyutan yang sangat tidak teratur. Marwan menahan nikmat yang tiada tara sambil berkata, “Terus Tante.. terus Tante..”, Dan Marwan pun mendekap kepala tantenya agar masuk ke dalam batang kemaluannya dan semprotan yang maha dahsyat keluar di dalam mulut Tante Angel yang merekah. Mendapatkan semburan lahar panas itu, Tante Angel kegirangan dan langsung menelannya dan menjilat semua yang ada di dalam batang kemaluan Marwan yang membuat Marwan meraung-raung kenikmatan. Terlihat dengan jelas tantenya memang sudah berpengalaman karena bila sperma sudah keluar dan batang kemaluan itu tetap disedotnya maka akan semakin nikmat dan semakin membuat badan menggigil.
Melihat itu Tante Angel semakin menjadi-jadi dengan terus menyedot batang kemaluan Marwan sampai keluar bunyi slurp…, slurp…, akibat sedotannya. Setelah puas menjilat sisa-sisa mani yang menempel di batang kemaluan Marwan, lalu Tante Angel kembali mengulum batang kejantanan Marwan dengan mulutnya yang seksi.
Melihat batang kemaluan Marwan yang masih memberikan perlawanan, Tante Angel bangkit sambil berkata, “Gila kamu Wan.. kamu masih menantang tantemu ini yaah.. Tante sudah keluar hampir empat kali kamu masih menantangnya.” Mendengar tantangan itu, Marwan hanya tersenyum saja dan terlihat Tante Angel mendekat ke hadapan Marwan sambil mengarahkan liang kewanitaannya untuk melahap batang kemaluan Marwan. Sebelum memasukkan batang kemaluan Marwan ke liang kewanitaannya, Tante Angel terlebih dahulu memberikan ciuman yang sangat mesra dan Marwan pun membalasnya dengan hangat. Saling pagut terjadi untuk yang kedua kalinya, lidah mereka saling bersatu dan saling menyedot. Tante Angel semakin tergila-gila sehingga liang kewanitaannya yang tadinya menempel di atas batang kemaluan Marwan sekarang tergeser ke belangkang sehingga batang kemaluan Marwan tergesek-gesek oleh liang kewanitaannya yang telah basah itu.
Mendapat perlakuan itu Marwan mengerang kenikmatan. “Aduuh Tante…” sambil melepaskan pagutan yang telah berjalan cukup lama. “Clepp…” suara yang keluar dari beradunya dua surga dunia itu, perlahan namun pasti Tante Angel mendorongnya masuk ke lembah surganya. Dorongan itu perlahan-lahan membuat seluruh urat nadi Marwan bergetar. Mata Tante Angel dipejamkan sambil terus mendorong pantatnya ke bawah sehingga liang kewanitaan Tante Angel telah berhasil menelan semua batang kemaluan Marwan. Tante Angel pun terlihat menahan nikmat yang tiada tara.
“Marwan…” rintihan Tante Angel semakin menjadi ketika liang senggamanya telah melahap semua batang kemaluan Marwan. Tante Angel diam untuk beberapa saat sambil menikmati batang kemaluan Marwan yang sudah terkubur di dalam liang kewanitaannya.
“Wan, Tante sudah tidak kuat lagi… Sayang..” desah Tante Angel sambil menggerakan-gerakkan pantatnya ke samping kiri dan kanan. Mulut tantenya terus mengaduh, mengomel sambil terus pantatnya digeser ke kiri dan ke kanan. Mendapatkan permainan itu Marwan mendesir, “Aduh Tante… terus Tante..” mendengar itu Tante Angel terus menggeser-geserkan pantatnya. Di dalam liang senggama tantenya ada tarik-menarik antara batang kemaluan Marwan dan liang kewanitaan tantenya yang sangat kuat, mengikat batang kemaluan Marwan dengan liang senggama Tante Angel. Kuatnya tarikan itu dimungkinkan karena ukuran batang kemaluan Marwan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan milik Om Budiman.
Goyangan pantatnya semakin liar dan Marwan mendekap tubuh tantenya dengan mengikuti gerakannya yang sangat liar itu. Kucuran keringat telah berhamburan dan beradunya pantat Tante Angel dengan paha Marwan menimbulkan bunyi yang sangat menggairahkan, “Prut.. prat.. pret..” Tangan Marwan merangkul tantenya dengan erat. Pergerakan mereka semakin liar dan semakin membuat saling mengerang kenikmatan entah berapa kali Tante Angel mengucurkan cairan di dalam liang kewanitaannya yang terhalang oleh batang kemaluan Marwan. Tante Angel mengerang kenikmatan yang tiada taranya dan puncak dari kenikmatan itu kami rasakan ketika Tante Angel berkata di dekat telingan Marwan. “Marwan…” suara Tante Angel bergetar, “Kamu kalau mau keluar, kita keluarnya bareng-bareng yaaah”. “Iya Tante…” jawab Marwan.
Selang beberapa menit Marwan merasakan akan keluar dan tantenya mengetahui, “Kamu mau keluar yaaa.” Marwan merangkul Tante Angel dengan kuatnya tetapi kedua pantatnya masih terus menusuk-nusuk liang kewanitaan Tantenya, begitu juga dengan Tante Angel rangkulanya tidak membuat ia melupakan gigitannya terhadap batang kemaluan Marwan. Sambil terus merapatkan rangkulan. Suara Marwan keluar dengan keras, “Tanteee.. Tanteee..” dan begitu juga Tante Angel mengerang keras, “Wan…”. Sambil keduanya berusaha mengencangkan rangkulannya dan merapatkan batang kemaluan dan liang kewanitaannya sehingga betul-betul rapat membuat hampir biji batang kemaluan Marwan masuk ke dalam liang senggama Tante Angel.
Akhirnya Marwan dan Tante Angel diam sesaat menikmati semburan lahar panas yang beradu di dalam liang sorga Tante Angel. Masih dalam posisi Tante Angel duduk di pangkuan Marwan. Tante Angel tersenyum, “Kamu hebat Marwan seperti kuda binal dan ternyata kepunyaan kamu lebih besar dari suaminya dan sangat menggairahkan.”
“Kamu sebetulnya sudah tahu keinginan Tante dari dulu ya, tapi kamu berusaha mengelaknya yaa..” goda Tante Angel. Marwan hanya tersenyum di goda begitu. Tante Angel lalu mencium kening Marwan. Kurang lebih Lima menit batang kemaluan Marwan yang sudah mengeluarkan lahar panas bersemayam di liang kewanitaan Tante Angel, lalu Tante Angel bangkit sambil melihat batang kemaluan Marwan. Melihat batang kemaluan Marwan yang mengecil, Tante Angel tersenyum gembira karena dalam pikirannya bila batang kemaluannya masih berdiri maka ia harus terus berusaha membuat batang kemaluan Marwan tidak berdiri lagi. Untuk menyakinkannya itu, tangan Tante Angel meraba-raba batang kemaluan Marwan dan menijit-mijitnya dan ternyata setelah dipijit-pijit batang kemaluan Marwan tidak mau berdiri lagi.
“Aduh untung batang kemaluanmu marwan… tidak hidup lagi,” bisik Tante Angel mesra sambil berdiri di hadapan Marwan, “Soalnya kalau masih berdiri, Tante sudah tidak kuat Wan” lanjutnya sambil tersenyum dan Duduk di sebelah Marwan. Sesudah Tante Angel dan Marwan berpanutan mereka pun naik ke atas dan masuk kamar-masing-masing.
Pagi-pagi sekali Marwan bangun dari tempat tidur karena mungkin sudah kebiasaannya bangun pagi, meskipun badannya ingin tidur tapi matanya terus saja melek. Akhirnya Marwan jalan-jalan di taman untuk mengisi kegiatan agar badannya sedikit segar dan selanjutnya badannya dapat diajak untuk tidur kembali karena pada hari itu Marwan tidak ada kuliah. Kebiasaan lari pagi yang sering dilakukan diwaktu pagi pada saat itu tidak dilakukannya karena badannya terasa masih lemas akibat pertarungan tadi malam dengan tantenya.
Lalu Marwan pun berjalan menuju kolam, tidak dibanyangkan sebelumnya ternyata Tante Angel ada di kolam sedang berenang. Tante Angel mengenakan celana renang warna merah dan BH warna merah pula. Melihat kedatangan Marwan. Tante Angel mengajaknya berenang. Marwan hanya tersenyum dan berkata, “Nggak ah Tante, Saya malas ke atasnya.” Mendapat jawaban itu, Tante Angel hanya tersenyum, soalnya Tante Angel mengetahui Marwan tidak menggunakan celana renang. “Sudahlah pakai celana dalam aja,” pinta Tante Angel. Tantenya yang terus meminta Marwan untuk berenang. Akhirnya iapun membuka baju dan celana pendeknya yang tinggal melekat hanya celana dalamnya yang berwarna biru.
Celana dalam warna biru menempel rapat menutupi batang kemaluan Marwan yang kedinginan. Loncatan yang sangat indah diperlihatkan oleh Marwan sambil mendekati Tante Angel, yang malah menjauh dan mengguyurkan air ke wajah Marwan. Sehingga di dalam kolam renang itu Tante Angel menjadi kejaran Marwan yang ingin membalasnya. Mereka saling mengejar dan saling mencipratkan air seperti anak kecil. Karena kecapaian, akhinya Tante Angel dapat juga tertangkap. Marwan langsung memeluknya erat-erat, pelukan Marwan membuat Tante Angel tidak dapat lagi menghindar.
“Udah akh Marwan.. Tante capek,” seru mesra Tante Angel sambil membalikkan badannya. Marwan dan Tante Angel masih berada di dalam genangan kolam renang. “Kamu tidak kuliah Wan,” tanya Tante Angel. “Tidak,” jawab Marwan pendek sambil meraba bukit kemaluan Tante Angel. Terkena rabaan itu Tante Angel malah tersenyum sambil memberikan ciuman yang sangat cepat dan nakal lalu dengan cepatnya ia melepaskan ciuman itu dan pergi menjauhi Marwan. Mendapatkan perlakuan itu Marwan menjadi semakin menjadi bernafsu dan terus memburu tantenya. Dan pada akhirnya tantenya tertangkap juga. “Sudah ah… Tante sekarang mau ke kantor dulu,” kata Tante Angel sambil sedikit menjauh dari Marwan.
Ketika jaraknya lebih dari satu meter Tante Angel tertawa geli melihat Marwan yang celana dalamnya telah melorot di antara kedua kakinya dengan batang kemaluannya yang sudah bangkit dari tidurnya. “Kamu tidak sadar Marwan, celana dalammu sudah ada di bawah lutut..” Mendengar itu Marwan langsung mendekati Tante Angel sambil mendekapnya. Tante Angel hanya tersenyum. “Kasihan kamu, adikmu sudah bangun lagi, tapi Tante tidak bisa membantumu karena Tante harus sudah pergi,” kata Tante Angel sambil meraba batang kemaluan Marwan yang sudah menegang kembali.
Mendengar itu Marwan hanya melongo kaget. “Akhh, Tante masa tidak punya waktu hanya beberapa menit saja,” kata Marwan sambil tangannya berusaha membuka celana renang Tante Angel yang berwarna merah. Mendapat perlakuan itu Tante Angel hanya diam dan ia terus mencium Marwan sambiil berkata, “Iyaaa deh.. tapi cepat, yaa.. jangan lama-lama, nanti ketahuan orang lain bisa gawat.”
Tante Angel membuka celana renangnya dan memegangnya sambil merangkul Marwan. Batang kemaluan Marwan langsung masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Angel yang sudah dibuka lebar-lebar dengan posisi kedua kakinya menempel di pundak Marwan. Beberapa detik kemudian, setelah liang kewanitaan Tante Angel telah melahap semua batang kemaluan Marwan dan dirasakannya batang kemaluan Marwan sudah menegang. Tante Angel menciumnya dengan cepat dan langsung mendorong Marwan sambil pergi dan terseyum manis meninggalkan Marwan yang tampak kebingungan dengan batang kemaluannya yang sedang menegang.
Mendapat perlakuan itu Marwan menjadi tambah bernafsu kepada Tante Angel, dan ia berjanji kalau ada kesempatan lagi ia akan menghabisinya sampai ia merasa kelelahan. Lalu Marwan langsung pergi meninggalkan kolam itu untuk membersihkan badannya.
Setelah di kamar, Marwan langsung membuka semua bajunya yang menjadi basah itu, ia langsung masuk kamar mandi dan menggosok badan dengan sabun. Ketika akan membersihkan badannya, air yang ada di kamar mandinya ternyata tidak berjalan seperti biasanya. Dan langsung Marwan teringat akan keberadaan kamar Yunda. Marwan lalu pergi keluar kamar dengan lilitan handuk yang menempel di tubuhnya. Wajahnya penuh dengan sabun mandi. “Yunda.. Yunda.. Yunda..” teriak Marwan sambil mengetuk pintu kamar Yunda. “Masuk Kak Marwan, tidak dikunci.” balas Yunda dari dalam kamar.
Didapatinya ternyata Yunda masih melilitkan badan dengan selimut dengan tangannya yang sedang asyik memainkan kemaluannya. Permainan ini baru didapatkannya ketika ia melihat adegan tadi malam antara kakaknya dengan Marwan dan kejadian itu membuat ia merasakan tentang sesuatu yang selama ini diidam-idamkan oleh setiap manusia.
“Ada apa Kak Marwan,” kata Yunda sambil terus berpura-pura menutup badannya dengan selimut karena takut ketahuan bahwa dirinya sedang asyik memainkan kemaluannya yang sudah membasah sejak tadi malam karena melihat kejadiaan yang dilakukan kakaknya dengan Marwan. “Anu Yunda.. Kakak mau numpang mandi karena kamar mandi Marwan airnya tidak keluar.” Memang Yunda melihat dengan jelas bahwa badan Marwan dipenuhi oleh sabun tapi yang diperhatikan Yunda bukannya badan tapi Yunda memperhatikan diantara selangkangannya yang kelihatan mencuat.
Iseng-iseng Yunda menanyakan tentang apa yang mengganjalnya dalam lilitan handuk itu. Mendengar pertanyaan itu niat Marwan yang akan menerangkan tentang biologi ternyata langsung kesampaian dan Marwan pun langsung memperlihatkannya sambil memengang batang kemaluannya, “Ini namanya penis.. Sayang,” kata Marwan yang langsung menuju kamar mandi karena melihat Yunda menutup wajahnya dengan selimut.
Melihat batang kemaluan Marwan yang sedang menegang itu Yunda membayangkan bila ia mengulumnya seperti yang dilakukan kakaknya. Keringat dingin keluar di sekujur tubuh Yunda yang membayangkan batang kemaluan Marwan dan ia ingin sekali seperti yang dilakukan oleh kakaknya juga ia melakukannya. Mata Yunda terus memandang Marwan yang sedang mandi sambil tangan terus bergerak mengusap-usap kemaluannya.
Akhirnya karena Yunda sudah dipuncak kenikmatan, ia mengerang akibat dari permainan tangannya itu telah berhasil dirasakannya .Dengan beraninya Yunda pergi memasuki kamar mandi untuk ikut mandi bersama Marwan. Melihat kedatangan Yunda ke kamar mandi, Marwan hanya tersenyum. “Kamu juga mau mandi Yun,” kata Marwan sambil mencubit pinggang Yunda.
Yunda yang sudah dipuncak kenikmatan itu hanya tersenyum sambil melihat batang kemaluan Marwan yang masih mengeras. “Kak boleh nggak Yunda mengelus-elus barang itu,” bisik Yunda sambil menunjuknya dengan jari manisnya. Mendengar permintaan itu Marwan langsung tersenyum nakal, ternyata selama ini apa yang diidam-idamkannya akan mendapatkan hasilnya. Dalam pikiran Marwan, Yunda sekarang mungkin telah mengetahui akan kenikmatan dunia. Tanpa diperintah lagi Marwan langsung mendekatkan batang kemaluannya ke tangan Yunda dan menuntun cara mengelus-elusnya. Tangan Yunda yang baru pertama kali meraba kepunyaan laki-laki itu sedikit canggung, tapi ia berusaha meremasnya seperti meremas pisang dengan tenaga yang sangat kuat hingga membuat Marwan kesakitan.
“Aduh.. jangan keras-keras dong Yunda, nanti batang kemaluannya patah.” Mendengar itu Yunda menjadi sedikit kaget lalu Marwan membatunya untuk memainkan batang kemaluannya dengan lembut. Tangan Yunda dituntunnya untuk meraba batang kemaluan Marwan dengan halus lalu batang kemaluan Marwan didekatkan ke wajah Yunda agar mengulumnya. Yunda hanya menatapnya tanpa tahu harus berbuat apa. Lalu Marwan memerintahkan untuk mengulumnya seperti mengulum ice crem, atau mengulumnya seperti mengulum permen karet. Diperintah tersebut Yunda langsung menurut, mula-mula ia mengulum kepala batang kemaluan Marwan lalu Yunda memasukkan semua batang kemaluan Marwan ke dalam mulutnya. Tapi belum juga berapa detik Yunda terbatuk-batuk karena kehabisan nafas dan mungkin juga karena nafsunya terlalu besar.
Setelah sedikit tenang, Yunda mengulum lagi batang kemaluan Marwan tanpa diperintah sambil pinggul Yunda bergoyang menyentuh kaki Marwan. Melihat kejadian itu Marwan akhirnya menghentikan kuluman Yunda dan langsung mengangkat Yunda dan membawanya ke ranjang yang ada di samping kamar mandi. Sesampainya di pinggir ranjang, dengan hangat Yunda dipeluk oleh Marwan dan Yunda pun membalas pelukan Marwan. Bibir Yunda yang polos tanpa liptik dicium Marwan dengan penuh kehangatan dan kelembutan. Dicium dengan penuh kehangatan itu Yunda untuk beberapa saat terdiam seperti patung tapi akhirnya naluri seksnya keluar juga, ia mengikuti apa yang dicium oleh Marwan. Bila Marwan menjulurkan lidahnya maka Yunda pun sama menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Marwan. Dengan permainan itu Yunda sangat menikmatinya apalagi Marwan yang bisa dikatakan telah dilatih oleh kakaknya yang telah berpengalaman.
Kecupan Yunda kadang kala keluar suara yang keras karena kehabisan nafas. “Pek.. pek..” suara bibir Yunda mengeluarkan suara yang membuat Marwan semakin terangsang. Mendengar suara itu Marwan tersenyum sambil terus memagutnya. Tangan Marwan dengan terampil telah membuka daster putih yang dipakai Yunda. Dengan gerakan yang sangat halus, Marwan menuntun Yunda agar duduk di pinggir ranjang dan Yunda pun mengetahui keinginan Marwan itu. Bibir Yunda yang telah berubah warna menjadi merah terus dipagut Marwan dengan posisi Yunda tertindih oleh Marwan. Tangan Yunda terus merangkul Marwan sambil bukit kemaluannya menggesek-gesekkan sekenanya.
Lalu Marwan membalikkan tubuh Yunda sehingga kini Yunda berada di atas tubuh Marwan, dengan perlahan tangan Marwan membuka BH putih yang masih melekat di tubuh Yunda. Setelah berhasil membuka BH yang dikenakan Yunda, Marwan pun membuka CD putih yang membungkus bukit kemaluan Yunda dilanjutkan menggesek-gesekkan sekenanya. Erangan panjang keluar dari mulut Yunda. “Auuu…” sambil mendekap Marwan keras-keras. Melihat itu Marwan semakin bersemangat. Setelah Marwan berhasil membuka semua pakaian yang dikenakan Yunda, terlihat Yunda sedikit tenang iapun kembali membalikkan Yunda sehingga ia sekarang berada di atas tubuh Yunda.
Marwan menghentikan pagutan bibirnya ia melanjutkan pagutannya ke bukit kemaluan Yunda yang telah terbuka dengan bebas. Dipandanginya bukit kemaluan Yunda yang kecil tapi penuh tantangan yang baru ditumbuhi oleh bulu-bulu hitam yang kecil-kecil. Kaki Yunda direnggangkan oleh Marwan. Pagutan Marwan berganti pada bibir kecil kepunyaan Yunda. Pantat Yunda terangkat dengan sendirinya ketika bibir Marwan mengulum bukit kemaluan kecilnya yang telah basah oleh cairan. Harum bukit kemaluan perawan membuat batang kemaluan Marwan semakin ingin langsung masuk ke sarangnya tapi Marwan kasihan melihat Yunda karena kemaluannya belum juga merekah. Jilatan bibir Marwan yang mengenai klitoris Yunda membuat Yunda menjepit wajah Marwan. Semburan panas keluar dari bibir bukit kemaluan Yunda. Yunda hanya menggeliat dan menahan rasa nikmat yang baru pertama kali didapatkanya.
Lalu Marwan merasa yakin bahwa ini sudah waktunya, ditambah lagi batang kemaluannya yang sudah telalu lama menengang. Marwan menarik tubuh Yunda agar pantatnya pas tepat di pinggir ranjang. Kaki Yunda menyentuh lantai dan Marwan berdiri diantara kedua paha Yunda.
Melihat kondisi tubuh Yunda yang sudah tidak menggunakan apa-apa lagi ditambah dengan pemandangan bukit kemaluan Yunda yang sempit tapi basah oleh cairan yang keluar dari bibir kecilnya membuat Marwan menahan nafas. Marwan berdiri, dan batang kemaluannya yang besar itu diarahkan ke bukit kemaluan Yunda. Melihat itu Yunda sedikit kaget dan merasa takut Yunda menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Melihat gejala itu Marwan hanya tersenyum dan ia sedikit lebih melebarkan paha Yunda sehingga klitorisnya terlihat dengan jelas. Ia menggesek-gesekkan batang kemaluannya di bibir kemaluan Yunda. Sambil menggesek-gesek batang kemaluan, Marwan kembali mendekap Yunda sambil membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Melihat Marwan yang membuka tangannya, Yunda langsung merangkulnya dan mencium bibir Marwan. Pagutan pun kembali terjadi, bibir Yunda dengan lahapnya terus memagut bibir Marwan. Suara erangan kembali keluar lagi dari mulut Yunda. “Aduhh… Kaak…” erang Yunda sambil merangkul tubuh Marwan dengan keras. Marwan meraba-raba bukit kemaluan Yunda dengan batang kemaluannya setelah yakin akan lubang kemaluan Yunda, Marwan mendorongnya perlahan dan ketika kepala kejantanan Marwan masuk ke liang senggama Yunda. Yunda mengerang kesakitan, “Kak.. aduh sakit, Kak…”
Mendengar rintihan itu, Marwan membiarkan kepala kemaluannya ada di dalam liang senggama Yunda dan Marwan terus memberikan pagutannya. Kuluman bibir Yunda dan Marwan pun berjalan lagi. Dada Marwan yang besar terus digesek-gesekkan ke payudara Yunda yang sudah mengeras. Yunda yang menahan rasa sakit yang telah bercampur dengan rasa nikmat akhirnya mengangkat kakinya tinggi-tinggi untuk menghilangkan rasa sakit di liang senggamanya dan itu ternyata membantunya dan sekarang menjadi tambah nikmat.
Kepala kemaluan Marwan yang besar baru masuk ke liang kewanitaan Yunda, tapi jepitan liang kemaluan Yunda begitu keras dirasakan oleh batang kemaluan Marwan. Sambil mencium telinga kiri Yunda, Marwan kembali berusaha memasukkan batang kemaluannya ke liang senggama Yunda. “Aduh.. aduh.. aduh.. Kak,” Mendengar rintihan itu Marwan berkata kepada Yunda. “Kamu sakit Yunda,” bisik Marwan di telinga Yunda. “Nggak tahu Kaak ini bukan seperti sakit biasa, sakit tapi nikmat..”
Mendengar penjelasan itu, Marwan terus memasukkan batang kemaluannya sehingga sekarang kepala kemaluannya sudah masuk semua ke dalam liang senggama Yunda. Batang kemaluan Marwan sudah masuk ke liang senggama Yunda hampir setengahnya. Batang kemaluannya sudah ditelan oleh liang kemaluan Yunda, kaki Yunda semakin diangkat dan tertumpang di punggung Marwan. Tiba-tiba tubuh Yunda bergetar sambil merangkul Marwan dengan kuat. “Aduhhh…” dan cairan hangat keluar dari bibir kemaluan Yunda, Marwan dapat merasakan hal itu melalui kepala kemaluannya yang tertancap di bukit kemaluan Yunda. Lipatan paha Yunda telah terguyur oleh keringat yang keluar dari tubuh mereka berdua.
Mendapat guyuran air di dalam bukit kemaluan itu, Marwan lalu memasukkan semua batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Yunda. Dengan satu kali hentakan. “Preeet…” Yunda melotot menahan kesakitan yang bercampur dengan kenikmatan yang tidak mungkin didapatkan selain dengan Marwan. “Auh.. auh.. auh..” suara itu keluar dari mulut kecil Yunda setelah seluruh batang kejantanan Marwan berada di dalam lembah kenikmatan Yunda. “Kak, Badan Yunda sesak, sulit bernafas,” kata Yunda sambil menahan rasa nikmat yang tiada taranya. Mendengar itu lalu Marwan membalikkan tubuh Yunda agar ia berada di atas Marwan. Mendapatkan posisi itu Yunda seperti pasrah dan tidak melakukan gerakan apapun selain mendekap tubuh Marwan sambil meraung-raung kenikmatan yang tiada taranya yang baru kali ini dirasakannya.
Yunda dan Marwan terdiam kurang lebih lima menit. “Yunda, sekarang bagaimana badanmu,” kata Marwan yang melihat Yunda sekarang sudah mulai menggoyang-goyangkan pantatnya dengan pelan-pelan. “Udah agak enakan Kak,” balas Yunda sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Mendapatkan serangan itu Marwan langsung mengikuti gerakan goyangan itu dan goyangan Marwan dari atas ke bawah.
Lipantan-lipatan kehangatan tercipta di antara selangkangan Yunda dan Marwan. Sambil menggoyangkan pantatnya, mulut Yunda tetap mengaduh, “Aduhhh…” Merasakan nikmat yang telah menyebar ke seluruh badannya. Tanpa disadari sebelumnya oleh Marwan. Yunda dengan ganasnya menggoyang-gonyangkan pantatnya ke samping dan ke kiri membuat Marwan kewalahan ditambah lagi kuatnya jepitan bukit kemaluan Yunda yang semakin menjepit seperti tang yang sedang mencepit paku agar paku itu putus. Beberapa menit kemudian Marwan memeluk badan Yunda dengan eratnya dan batang kemaluannya berusaha ditekan ke atas membuat pantat Yunda terangkat. Semburan panas pun masuk ke bukit kemaluan Yunda yang kecil itu. Mendapat semburan panas yang sangat kencang, Yunda mendesis kenikmatan sambil mengeram, “Aduhh… aduh.. Kak..”
Selang beberapa menit Marwan diam sambil memeluk Yunda yang masih dengan aktif menggerak-gerakkan pantatnya ke kiri dan ke kanan dengan tempo yang sangat lambat. Setelah badannya merasa sudah agak baik, Marwan membalikkan tubuh Yunda sehingga sekarang tubuh Yunda berada di bawah Marwan. Batang kemaluan Marwan masih menancap keras di lembah kemaluan Yunda meskipun sudah mengeluarkan sperma yang banyak. Lalu kaki Yunda diangkat oleh Marwan dan disilangkan di pinggul. Marwan mengeluarkan batang kemaluannya yang ada di dalam liang senggama Yunda. Mendapat hal itu mata Yunda tertutup sambil membolak-balikkan kepala ke kiri dan ke kanan lalu dengan perlahan memasukkan lagi batang kemaluannya ke dalam liang senggama Yunda, turun naik batang kemaluan Marwan di dalam liang perawan Yunda membuat Yunda beberapa kali mengerang dan menahan rasa sakit yang bercampur dengan nikmatnya dunia. Tarikan bukit kemaluan Yunda yang tadinya kencang pelan- pelan berkurang seiring dengan berkurangnya tenaga yang terkuras habis dan selanjutnya Marwan mengerang-erang sambil memeluk tubuh Yunda dan Yunda pun sama mengeluarkan erangan yang begitu panjang, keduanya sedang mendapatkan kenikmatan yang tiada taranya.
Marwan mendekap Yunda sambil menikmati semburan lahar panas dan keluarnya sperma dalam batang kemaluan Marwan dan Yunda pun sama menikmati lahar panas yang ada dilembah kenikmatannya. Kurang lebih lima menit, Marwan memeluk Yunda tanpa adanya gerakan begitu juga Yunda hanya memeluk Marwan. Dirasakan oleh Marwan bahwa batang kemaluannya mengecil di dalam liang kemaluan Yunda dan setelah merasa batang kemaluannya betul-betul mengecil Marwan menjatuhkan tubuhnya di samping Yunda. Marwan mencium kening Yunda. Yunda membalasnya dengan rintihan penyesalan, seharusnya Marwan bertanggung jawab atas hilangnya perawan yang dimiliki Yunda.
Mendengar itu Marwan hanya tersenyum karena memang selama ini Marwan mendambakan istri seperti Yunda ditambah lagi ia mengetahui bila hidup dengan Yunda maka ia akan mendapatkan segalanya. Marwan mengucapkan selamat bobo kepada Yunda yang langsung tertidur kecapaian dan Marwan langsung keluar dari kamar Yunda setelah Marwan menggunakan pakaiannya kembali.
Marwan masuk ke dapur, didapatnya tantenya sedang dalam keadaan menungging mengambil sesuatu. Terlihat dengan jelas celana merah muda yang dipakai tantenya. Tante Angel dibuat kaget karena Marwan langsung meraba liang kewanitaannya yang terbungkus CD merah muda sambil menegurnya. “Tante sudah pulang,” tanya Marwan. Sambil melepaskan rabaan tangannya di liang kewanitaan tantenya. Lalu Marwan membuka kulkas untuk mencari air putih. “Iya, Tante hanya sebentar kok. Soalnya Tante kasihan dengan burung kamu yang tadi Tante tinggalkan dalam keadaan menantang,” jawab Tante Angel sambil tersenyum. “Bagaimana sekarang Marwan burungnya, sudah mendapatkan sarang yang baru ya..” Mendapat ejekan itu, Marwan langsung kaget. “Ah Tante, mau cari sangkar di mana,” jawab Marwan mengelak. “Marwan kamu jangan mengelak, Tante tau kok.. kamu sudah mendapatkan sarang yang baru jadi kamu harus bertanggung jawab. Kalau tidak kamu akan Tante laporkan sama Oom dan kedua orang tuanmu bahwa kamu telah bermain gila bersama Yunda dan Tante.”
Mendengar itu, Marwan langsung diam dan ia akan menikahi Yunda seperti yang dijanjikanya. Mendengar hal itu Tante Angel tersenyum dan memberikan kecupan yang mesra kepada Marwan sambil meraba batang kemaluan Marwan yang sudah tidak kuat untuk berdiri. Melihat batang kemaluan Marwan yang sudah tidak kuat berdiri itu Tante Angel tersenyum. “Pasti adikku dibuatnya KO sama kamu yaa… Buktinya burung kamu tidak mau berdiri,” goda Tante Angel. “Ahh nggak Tante, biasa saja kok.”
Tante Angel meninggalkan Marwan, sambil mewanti-wanti agar menikahi adiknya. Akhirnya pernikahan Yunda dengan Marwan dilakukan dengan pernikahan dibawah tangan atau pernikahan secara agama tetapi dengan tanpa melalui KUA karena Yunda masih dibawah umur.

Posting Komentar